4 Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Perkembangan Anak Balita


Menjadi seorang ibu adalah kebanggaan tersendiri bagi kita. Sempurna sudah peran kita di dunia ini saat kita memiliki anak dan bergelar ibu. Tugas selanjutnya masih sangat banyak. Kita harus melindungi dan menjaga si kecil dengan baik. Bukan hanya memperhatikan kebutuhan nutrisi anak, lebih dari itu kita juga harus meluangkan banyak waktu untuk bersama anak. Ya, kita juga harus mengetahui betul bagaimana perkembangan anak balita.

Menghabiskan banyak waktu bersama si kecil adalah salah satu cara agar kita tidak kehilangan momen melihat langsung bagaimana perkembangan anak balita. Jangan sampai kita sibuk bekerja lalu membiarkan anak berlama-lama dengan asisten rumah tangga. Membangun kedekatan dengan si kecil harus dilakukan sedini mungkin. Tentu kita tidak ingin asisten rumah tangga kita yang tahu betul bagaimana daya tumbuh kembang anak, sedangkan kita hanya tahu anak sudah makan, mandi, minum susu, dan tidur.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan anak balita.

1. Perkembangan emosi
Saat anak berusia 2 atau 3 tahun, anak berada pada fase perkembangan emosi. Pada periode ini anak akan sering mengalami tantrum. Dalam hal ini kita disarankan untuk mengajarkan anak untuk mengenali jenis-jenis emosi yang dirasakan. Entah itu emosi positif atau negatif. Dengan mengenalkan jenis emosi pada anak, lambat laun anak akan mulai belajar mengelola emosi yang tengah dirasakan.

2. Perkembangan sosial
Usia 3 tahun merupakan fase pembentukan kontrol diri dan harga diri. Pembentukan ini dimulai dengan proses interaksi yang dilakukan si kecil dengan lingkungan. Jadi, tidak perlu melarang anak untuk bermain bersama teman-temannya. Selama tempat dan permainan yang dilakukan tidak membahayakan, beri anak kebebasan untuk mengeksplorasi kemampuannya. Anak akan belajar menerima pendapat teman, mendengarkan teman yang sedang berbicara dan lainnya.

Mengenalkan lingkungan sosial kepada anak sebaiknya dimulai sejak anak memasuki usia 2 tahun. Hal ini harus dibarengi dengan kerjasama yang baik antar anggota keluarga dan penghuni rumah (AR T dll). Jadi ketika kita harus meninggalkan anak untuk bekerja, kita sudah bisa memastikan bahwa anak bersama dengan orang yang tepat dan di lingkungan yang baik pula.

3. Perkembangan kognitif
Berdasarkan opini Piaget, seorang tokoh Psikologi. Anak memiliki kemampuan berpikir pada periode praoperasional. Ini artinya anak akan mulai belajar meniru perilaku maupun ucapan yang ia dengar dari orang atau lingkungan sekitarnya. Pada periode ini anak hanya sebagai peniru tanpa memahami apakah yang ditiru tersebut baik atau tidak. Oleh karena itu selalu ciptakan lingkungan yang positif untuk si kecil. Agar anak mendapatkan input yang baik dan yang ditiru adalah hal-hal baik.

4. Perkembangan motorik
Seiring pertumbuhan dan perkembangannya, anak mulai mengeksplorasi kemampuan motorik halus. Ketrampilan motorik halus ini berperan dalam mengembangkan dan mematangkan emosi si kecil. Pada periode ini anak bisa dikenalkan dengan kegiatan menggunting, melipat, menempel atau menjahit. Manfaatkan periode ini untuk mengajarkan anak tentang cara memakai pakaian, memakai kaos kaki, memakai sepatu dan lainnya.

Demikianlah beberapa hal yang harus diperhatikan terkait perkembangan anak balita. Menyaksikan pertumbuhan dan perkembangan anak secara langsung adalah kebahagiaan tiada tara bagi seorang ibu. Oleh karena itu upayakan untuk memiliki banyak waktu bersama anak. Membangun kedekatan yang intens akan menjadikan anak semakin mengenal siapa sosok kita, seorang ibu dan sekaligus malaikat bagi si kecil.



EmoticonEmoticon